Kamis, 08 November 2012

Firanda Pendusta Murokkab?

Firanda Pendusta Murokkab, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (2)

Rontoknya Firanda Atas Klaim Bahwa Para Ulama Berkonsesnsus Allah Berada di Langit

… Lanjutan Sekelumit Upaya Mengungkap Tipu Muslihat Firanda …

Firanda VS Ahmad Syahid - Ummatipress.com
Firanda VS Ahmad Syahid - Ummatipress.com
Di kajian bagian pertama sudah dibahas bagaimana tulisan Ustadz Firanda yang ternyata dibangun di atas hujjah-hujjah dusta dan palsu sehingga tulisan tersebut menjadi tanpa arti atau hampa makna.  Maka di bagian kedua ini akan disajikan kajian lebih menukik dan lebih mendalam tentang gugur dan rontoknya argument yang dipertunjukkan Firanda. Rontoknya Firanda atas Klaim Bahwa Para Ulama Berkonsesnsus Allah Berada di Langit, ini terbukti dengan sangat telak dan transparan alias jelas cetho welo-welo tanpa ragu atas rontoknya argument Ustadz Firanda. Mari kita lihat bersama dan silahkan kaji kembali bagi anda yang sudah memiliki perangkat ilmunya….

Ustadz Firanda mengatakan :
Perkataan salaf dan para ulama mutaqoddimin yang menunjukan bahwa Allah berada di atas langit
Adapun perkataan para ulama yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit maka sangatlah banyak. Perkataan mereka telah dikumpulkan oleh Al-Imam Al-Muhaddits Ad-Dzahabi As-Syafii dalam kitabnya Al-’Uluw li Al-’Aliyyi Al-’Adziim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2414dan http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2413 dua cetakan dengan dua pentahqiq yang berbeda) demikian juga kitab Al-Ijtimaa’ al-Juyuusy Al-islaamiyyah karya Ibnul Qoyyim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2835). Sungguh dua kitab ini telah mengumpulkan banyak sekali perkataan sahabat, para salaf, dan para ulama dari abad yang berbeda-beda dan dari madzhab yang berbeda-beda.
Oleh karenanya tidak ada seorang ulama salafpun –apalagi para sahabat- yang perkataannya menunjukan bahwasanya Allah tidak berada di atas.
Jawab: Tahukah Ustadz Firanda jika Penulis kitab Al-Uluw al-Hafidz adzahabi telah tobat dan meninggalkan kitab itu,  sehingga beliau menulis sebuah risalah yang diberi nama Zaghlul Ilmi ? Dan dalam risalah itu pulalah Adzahabi mencantumkan nasehatnya untuk Ibnu Taimiyah? Lalu kenapa Ustadz Firanda masih menganjurkan Orang untuk mempelajarinya? Tahukah ustadz Firanda jika 98%  sanad dan riwayat atsar yang terdapat dalam kitab al-Uluw adalah tidak sah , Mungkar bahkan PALSU alias MAUDHU`?  Begitu juga halnya dengan kitab Ijtimaa al-juyusy al-Islamiyah percis tidak jauh beda dengan riwayat atau sanad yang terdapat dalam kitab al-uluw, 98%  tidak Sah, Mungkar bahkan Maudhu’.  Kalau tidak percaya silahkan sampaikan atsar dari kedua kitab itu Insya Allah akan saya kasih tahu statusnya, lalu silahkan Ustadz Firanda lakukan cek n recek untuk membuktikan sendiri kebenaran yang coba saya tunjukkan itu.  Hal ini saya sampaikan semata–mata hanya untuk mengingatkan fa dzakkir Fa inna dzikro tanfa’ul mu`minin, semoga Allah memberikan Hidayah kepada kita semua untuk mengikuti kebenaran.
Bukti bahwa Al-Hafidz Adz-Dzhabi telah berlepas diri dari kitab yang dikarangnnya (Al-Uluw) terdapat dalam sampul manuskrip kitab tersebut :

Inilah bukti scan manuskrip tentang Adz-dzhabi bertaubat dari faham sesat.

 (1)

bukti scan manuskrip Adz-dzahabi tobat

(2)

bukti scan manuskrip Adz-Dzahabi tobat
Terjemah dari bukti scan manuskrip Adz-dzhabi taubat dari faham sesat:

KEMBALINYA  (TOBATNYA) ADZ-DZAHABI DARI KITAB INI ( AL-ULUW LIL ALIYYIL GHOFFAR )

Dalam sampul manuskrip kitab Al-Uluw lil Aliyyil Ghoffar karya Adz-Dzahabi terdapat pernyataan bahwa Imam Adz-dzahabi telah kembali ( tobat) dari Aqidah yang ditulisnya dalam kitab tersebut. Pernyataan ini ditulis langsung  oleh pembuat Manuskrip (nasikhul kitab) tahun 804 hijriyah yaitu : Al-hafidz Ibn Nashir ad-din ad-dimasqi Abu Abdullah Muhammad bin Abdillah bin muhammad bin Ahmad al-qoisi al-hamawi as-asyafi’i yang meninggal pada Tahun 842 hijriyah. (1)
Beliau berkata: berkata penulis (ad-adzahabi-pent)  baginya Allah atas apa yang aku dapatkan dari tulisan yang terdapat dalam catatan / pinggir halaman kitab (hamisy) yang sudah tercetak (al-musawwadah) , tahun 798 hijriyah bahwasannya didalamnya terdapat Hadist-hadist yang sangat lemah dan perkataan – perkataan dari firqoh-firqoh yang jauh melebar  dalam ibarat-ibarat yang mereka gunakan , maka saya tidak sepakat atas ibarat-ibarat itu dan saya juga tidak menjadi Muqollid kepada mereka , semoga Allah mengampuni mereka , dan saya tidak berpegang (al-tazim) dengannya (ibarat-ibarat itu – pent) atas apa yang aku kumpuylkan selama ini, dengan inilah (keputusan ini-pent) aku ber-agama dan aku tahu bahwasannya Allah tidak ada yang menyerupai-NYA sesuatu pun, Allah maha suci dan maha tinggi.
  1. Bioghrafi beliau terdapat dala kitab Al-dou’ al-lami’ li ahli qorni tasi’ juz 8 halaman 103 karya al-Hafidz As-sakhowi beliau berkata : Adz-Dzahabi adalah salah satu gurunya.
Perhatikan pernyataan Adz-dzahabi diatas:  ”Saya tidak sepakat dengan ibarat (pernyataan-pernyataan) itu, dan saya pun tidak mengikuti mereka (pernyataan-pernataan yang dinukil Adz-Dzahabi dalam Al-uluw yang pernah beliau tulis-pent).
Lantas siapakah para Imam yang nama-namanya beliau kumpulkan dalam Al-uluw? Jika Adz-Dzahabi sendiri tidak sepakat dan tidak mengikutinya? Segera buang jauh- jauh kitab Al-uluw dan kitab Ijtima Juyusy al-islamiyah.

Berikut adalah risalah Adz-Dzahabi Untuk Ibnu Taimiyah:

Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:
“Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan.  Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun.
Sungguh saya sudah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya ( Ibn Taimiyah ) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.
Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:
“Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.
Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!
Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!
Oh… Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!
Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!
Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.
Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)
Hai Syekh…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)
Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.
Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??
Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.
Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.
Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.
Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.
Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!
Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!
Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!
Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!
Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!
Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.
Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.
Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.
Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.
Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian. Terjemahan ini saya Nukil dari situs “kenapa takut Bid`ah . word Press . com”

Lanjutan:
Ustadz Firanda mengatakan :
Perkataan para ulama Asyaa’iroh yang mengakui Allah di atas langit
Ternyata kita dapati bahwasanya sebagian pembesar madzhab Asyaa’iroh juga mengakui keberadaan Allah di atas langit. Sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asmaa’ wa As-Sifaat (2/308)
Beliau berkata, “Dan atsar dari salaf seperti hal ini (yaitu bahwasanya Allah berisitwa di atas ‘arsy -pent) banyak. Dan madzhab As-Syafii radhiallahu ‘anhu menunjukan di atas jalan ini, dan ini madzhab Ahmad bin Hanbal…Dan Abu Hasan Ali bin Ismaa’iil Al-’Asy’ari berpendapat bahwasanya Allah melakukan suatu fi’il (perbuatan) di ‘arsy yang Allah namakan istiwaa’… Dan Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi At-Thobari dan juga para ahli nadzor bahwasanya Allah ta’aalaa di langit di atas segala sesuatu, ber-istiwa di atas ‘arsynya, yaitu maknanya Allah di atas ‘arsy. Dan makna istiwaa’ adalah tinggi di atas sebagaimana jika dikatakan “aku beristiwa’ di atas hewan”, “aku beristiwa di atas atap”, maknanya yaitu aku tinggi di atasnya, “Matahari beristiwa di atas kepalaku”
Dari penjelasan Al-Imam Al-Baihaqi di atas nampak ;
– Banyaknya atsar dari salaf tentang Allah di atas.
– Ini merupakan madzhab As-Syafi’i dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal
– Ini merupakan madzhab sebagian pembesar Asyaa’iroh seperti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abul Hasan At-Thobari.
Jawab: sebaiknya Ustadz Firanda juga menyertakan perkataan Al-Imam Al-baihaqi dalam Asma wa sifat halaman 410 , beliau berkata : ” dan Dzat yang Qodim yang maha suci adalah Tinggi diatas Arsy tidak duduk , tidak juga berdiri , tidak menempel tidak juga terpisah ( wala mubayin lil arsy) dari Arsy , jika yang diinginkan dengan mubayanah itu adalah Makna menjauh atau berpisah , karena menempel dan terpisah merupakan kebalikannya , dan berdiri dan duduk adalah sifat Jisim (tubuh-pent) , dan Allah azza wa jalla satu somad yang tidak dilahirkan tidak pula melahirkan , yang tidak ada satupun bandingannya tidak boleh disifati dengan sifat-sifat Jisim (tubuh-pent) , kemudian pensifan akan ketinggian Allah tidak hanya disebutkan oleh Al-baihaqi tetapi juga dikatakan oleh Ibnu mahdi dan Imam At-thobari dimana maksud mereka semuanya adalah ketinggian martabat dan kedudukan sama sekali bukan ketiunggian fisik dan dzat sebagaimana yang diinginkan oleh Ustadz firanda , jadi qoul yang dinukil oleh Ustadz Firanda ini justru mendukung pendapat Ulama Asy’ariyah yang menetapkan ketinggian martabat kedudukan dan kekuasaan.
Begitu juga jika Ustadz Firanda menyertakan perkataan Imam al- Baihaqi dalam kitabnya al-i`tiqod ” halaman 69 – 73 tepatnya pada halaman 72 beliau katakan : ringkasnya (bil-jumlah) wajib diketahui bahwa ” Istiwa allah ” yang maha suci dan maha tinggi bukanlah Istiwa yang lurus dari yang bengkok bukan pula berdiam dalam tempat , bukan pula menempel / menyatu disalah satu makhluknya , akan tetapi Istiwa diatas Arsy nya sebagaimana diberitakan tanpa Bagaimana dan DIMANA tidak menyatu tidak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya dan bahwasannya kedatangan Allah bukanlah kedatangan dari tempat ke tempat dan tanpa Gerakan dst….. perhatikanlah beliau menafikan kata DIMANA ,  ” kesimpulan dari atsar yang dibawakan oleh Ustadz Firanda ini beserta isinya menunjukan jika Al-Baihaqi dan Ulama yang disebutkannya menginginkan Istiwa dalam makna: ”ketinggian Martabat , kedudukan dan kekuasaan.  Sama sekali bukan ketinggian Fisik (Dzat) sebagaimana yang di inginkan Ustadz Firanda.
Ustadz Firanda mengatakan:
Pertama : Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah
Merupakan perkara yang mengherankan bahwasanya diantara para ulama yang menyebutkan konsensus salaf tersebut adalah Imam besar kaum Asyaa’iroh yaitu Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari yang hidup di abad ke empat Hijriah. Dialah nenek moyang mereka, guru pertama mereka, sehingga merekapun berintisab (berafiliasi) kepada nama beliau menjadi firqoh Asyaa’iroh.
Berkata Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:
Ijmak kesembilan :
Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ
Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).
Dan Allah berfirman
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).
Dan Allah berfirman
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4)
Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234)
Ini merupakan hikayat kumpulan perkataan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah
….
Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345).
Jawab:
Kebesaran nama Al- Imam Abul Hasan Al-Asy`ari membuat begitu banyak orang yang ingin mendimpleng / menumpang dalam nama besarnya. Bahkan tidak jarang perkataan-perkataan aneh muncul dalam kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau, sehingga banyak Ahli dalam lingkungan Ulama Asy’ariyah meragukan keaslian kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau. Hal ini pulalah yang kemudian mendorong Al-Hafidz Ibnu Asakir untuk menjelaskan kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kepada Sang Imam , beliau menulis sebuah kitab Tabyinul Kadzib al- Muftari ‘ala al- Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.
Akidah shahihah yang dianut salaf as-shalih adalah Allah ada tanpa tempat dan arah. Kekeliruan Ustadz Firanda adalah menukil perkataan sang Imam dari kitab-kitab yang oleh kalangan Asy’ariyah sendiri kitab-kitab tersebut tidak digunakan sebagai pegangan Utama seperti kitab Al-ibanah , Maqolat Islamiyyin , risalah ila ahli tsagr dan yang lainnya.  Kalangan Asy’ariah hanya menggunakan pernyataan-pernyataan Sang Imam yang betul-betul Tsabit dari sang Imam bukan kitab-kitab Muharraf (yang telah diubah ) oleh tangan–tangan Jail seperti hasyawiyun.  Sebab Pemahaman teks Mutasyabihat secara literal bukanlah Manhaj al- Imam Abul Hasan Al- Asy`ari,   seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Ibnu ‘Asakir dalam kitab Tabyinul kadzibil muftari, begitu juga ditegaskan oleh al-imam tajuddin al-subki dalam tobaqot syafi`iyah.
Coba perhatikan pernyataan Imam abul hasan al-asy`ari:
”Allah ada tanpa tempat , menciptakan Arsy dan kursi tanpa butuh kepada keduanya sebagai tempat , dan Allah setelah menciptakan tempat , tetap seperti sebelum menciptakan tempat.” ( tabyinul kadzibil muftari hal 150).
Oleh karena itu bagi siapapun termasuk ustadz Firanda jika ingin mengambil Hujjah Untuk mempelajari ( menyerang ) Asy’ariyyin ambil dan pelajarilah Tabyinul Kadzib karya Al-Hafidz Ibn ‘Asakir.  Sehingga apa yang didakwakan Ustadz firanda bahwa : para Ulama Asy’ariyah pun mengakui Jika Allah berada dilangit, adalah dakwa’an yang tertolak karena kitab-kitab yang dijadikan sandaran oleh ustadz firanda, dikalangan kalangan Asy’ariyah pun tidak menggunakannya sebagai pegangan Utama, karena kitab-kitab tersebut tidak Tsabit dan tidak lagi murni Asli karangan Sang Imam.

Bukti kedua yang dijadikan Hujjah oleh ustadz Firanda:
Kedua : Abu Bakr Al-Baaqillaani (wafat 403 H)
Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah
“Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Alla berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”
Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …
(Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-’Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-’Uluw 258)).
Jawab :
1. pernyataan beliau bahwa Allah ada di mana–mana adalah jawaban terhadap Jahmiyah dan Mu`tazilah yang menyatakan Allah berada dimana – mana sementara Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah.
2. pernyataan beliau : Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, adalah Manhaj atau metodologi Tafwidh (salah satu dari dua metodologi yang digunakan Ulama asy’ariyah dalam memahami ayat Mutasyabihat) pernyataan beliau ini merupakan bantahan bagi kaum Mujassimah (wahabiyah) yang mengartikan Istawa dengan arti yang Bathil mereka mengartikan Istawa dengan : Istiqroru Dzat ( berdiamnya Dzat Allah dilangit ).
3. bukti yang dibawakan Ustadz Firanda ini justru menjadi Bumerang bagi Ustadz Firanda dan golongannnya yang mengartikan Istawa dengan makna Istiqror ( berada / berdiam ) karena Al- Baqilani tidak menentukan arti secara Khusus untuk lafadz Istawa , yang beliau katakan adalah : ” Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”,  perhatikan:  sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, inilah yang disebut Tafwidh yang juga di tolak oleh Ustadz Firanda dan kelompoknya.
Bukti ke tiga yang dibawakan Ustadz Firanda:
Ketiga : Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)
Beliau berkata dalam kitabnyaAl-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)
“Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?”.
Jawab : lagi-lagi ustadz Firanda menyebut Nama Al-Hafidz Al- baihaqi untuk mendukung hipotesanya , dan Sangat disayangkan Ustadz firanda hanya mengambil pernyataan Al- Baihaqi yang belum tuntas demi mendukung kesimpulan Bathilnya. Saya minta Ustadz firanda untuk membaca tulisan Al-Baihaqi secara utuh dalam bab Al-qoul fil Istiwa jangan main  penggal–penggal begitu karena akan memberikan pemahaman yang salah.  Coba baca terus sampai halaman berikutnya yang menunjukkan jika Al-baihaqi  ”hanya”  sedang menyebutkan ayat dan hadist yang berkaitan dengan istawa belum kepada kesimpulan, sebagaimana potongan bab oleh Ustadz Firanda seakan itu adalah kesimpulan sang Imam al- baihaqi dalam memahami Istawa.

Sementara kesimpulan yang shahih dari sang Imam adalah : ” ( wa Fil Jumlah ……) kesimpulannya adalah wajib diketahui bahwa Itiwa Allah yang maha suci dan maha tinggi, bukanlah Istiwa tegak dari yang bengkok, bukan pula Ber Diam (berada) pada tempat, tidak pula bersentuhan dengan suatu apapun dari makhluknya, akan tetapi Istiwa diatas Arsynya sebagaimana yang diberitakan tanpa bagaimana dan Dimana, tidak menyatu tidak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya. Dan datangnya Allah bukanlah datang dari tempat ke tempat , dan datangnya Allah tidak dengan Gerakan, dan turunnya pun bukan dengan berpindah, dan nafsnya bukanlah Tubuh (jisim) dan Wajahnya tidak lah gambar (shuroh), dan tangannya Bukanlah Anggota Tubuh, dan matanya bukanlah bola mata, hanya saja sifat-sifat ini telah ditentukan maka kami mengatakannya dengan menafikan bagaimananya.  Allah berfirman:  ”Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya dan ber Firman: “Tidak ada yang sebanding dengannya dan Allah berfirman : “Apakah engkau tahu nama baginya… “
Coba bandingkan Aqidah sang Imam (al-Baihaqi) dengan Aqidah Salafiyyin ( Wahabiyyin ) Aqidah sang Ustadz  Firanda yang mengatakan Istiwa dengan Istiqror ( berdiam / bertempat ) yang mengatakan Istiwa dengan qu’ud ( jongkok) Julus ( duduk) sebagaimana dinyatakan Imam Imam mereka :  mengatakan Allah duduk di kursi, disebutkan dalam kitab ” Fathul Majid ” hal. 356, penulis abdurrahman bin hasan bin muhammad bin abdil Wahhab. Cet. Darusalam riyad. Dan masih banyak lainnya seperti hamud at- tuwajiri , bin baz dll
Kesimpulan: bukti ketiga yang dibawakan Ustadz Firanda ini Justru menjadi senjata makan tuan , yang membabat habis Aqidah Ustadz firanda dan kelompoknya yang mengartikan Istiwa dengan berdiam bertempat dan duduk dikursi diatas Arsy. Dari tiga bukti yang dibawakan sang Ustadz ini ternyata memiliki pemahaman yang berbeda dengan apa yang dipahami Ustadz Firanda cs , sehingga Klaim Ustadz Firanda lagi-lagi gugur karena sang Ustadz salah dalam memahaminya akibat dari pemahaman yang dipenggal–penggal.
Terlebih Imam Al- baihaqi dalam kitab inipun, setelah menyebutkan kesimpulan tadi , memberikan kaidah yang tidak digunakan bahkan tidak ditampilkan oleh ustadz firanda yaitu beliau berkata : “Telah mengabarkan kepada kami muhammad bin abdullah al-hafidz memberitakan kepada kami abu bakar bin muhammad bin ahmad bin ba lawih , mengatakan kepada kami muhammad bin bisr bin mator mengatakan al-haitsam bin Khorijah mengatakan kepada kami al-walid bin muslim beliau berkata : telah ditanya Al- Auza’i , Imam malik , sufyan ats-tsauri dan laits bin sa`ad tentang ayat-ayat ini ( ayat mutasyabihat / Istiwa dll-pent) mereka semuanya menjawab:  ”Ammiruha kama Jaa’at tanpa bagaimana”.  Perhatikanlah para Imam itu menjawab : ”lewati saja sebagaimana dia datang tanpa membagaimanakan”.  Kemudian untuk mempertegas ini Al-baihaqi juga menyebutkan dengan sanadnya dari sufyan bin Uyainah bahwa:  Setiap sifat yang Allah sifati dirinya dalam KITAB-nya maka penjelasannya (tafsirnya) adalah membacanya lalu diam.
Bandingkan dengan metodologi kaum salafiyyin wahabiyyin termasuk Ustadz firanda yang mengharuskan ayat-ayat itu difahami dengan Dzahir dan hakekat dari setiap lafadz dalam ayat itu ( lihat risalah at-tadmuriyah – Ibnu taimiyah).  Bahkan mereka mensifati Allah dengan Riwayat-riwayat yang tidak sah, isroiliyat , Mungkar dan maudhu’  seperti yang tertera dalam Kitab Tauhid Karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kitab Rodd alal jahmiyah karya Ad-darimi kitab al-Uluw adz-dzahabi,  kitab Ijtima’  juyusy Ibnu Qoyyim dan kitab-kitab pegangan mereka lainnya seperti risalah al-hamawiyah dan al-Arsy karya Ibnu Taimiyah, sangat jauh dari petunjuk para Aimmah.
Sampai disini kiranya tanggapan (bantahan) atas beberapa materi pokok, dalam tulisan Ustadz Firanda dimana Klaim :
1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.  —————  Hanya berdasar kepada Riwayat – riwayat yang Tidak Sah, Mungkar bahkan Palsu ( maudhu’)  sebagaimana telah kita kaji bersama ternyata dari 13  riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda itu semuanya GUGUR
2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan Sahabat, para Tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.  —————-——  Klaim ini pun gugur, karena dua kitab yang dijadikan sandaran Oleh Ustadz Firanda ( al-Uluw dan Ijtima` al-juyusy ) hanya bersandarkan kepada riwayat-riwayat yang tidak Sah , Mungkar bahkan Maudhu`
3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.  ——————— klaim ini juga Gugur, karena:
1. Ustadz Firanda dalam pembuktian perkataan Ulama Asy’ariyah , mengambil sandaran dari kitab-kitab yang tidak digunakan oleh ulama Asy`ariyah.
2. ustadz Firanda salah dalam memahami perkataan Ulama Asy`ariyah dalam hal ini Al-baqilani yang menggunakan Manhaj Tafwidh,  kesalahan  pemahaman Ustadz Firanda diakibatkan karena ” membaca ” tidak secara utuh, tidak secara komprehensif sebagaimana telah dibuktikan dalam kajian di atas.
3. Ustadz Firanda hanya mengambil potongan-potongan (cut paste) pembahasan para Ulama Asy`ariyah, terlebih Sang Ustadz Firanda tidak mengindahkan / memperhatikan Metodologi yang ditetapkan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).  Sehingga ustadz Firanda tidak mampu membedakan antara Manhaj Tafwidh dan Manhaj Takwil yang kedua-duanya merupakan metodologi yang digunakan Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).

Itulah inti dari tulisan Ustadz firanda yang semunya sudah Gugur.  Dan yang berikutnya adalah kajian atau kritisi Ustadz Firanda terhadap tulisan Ustadz Abu salafy. Untuk memperjelas persoalan mungkin perlu juga untuk disimak mudah-mudahan ada faidahnya.

B E R S A M B U N G …..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar